Breaking News

01 Syada Yusuf


Syada Yusuf
Seorang gadis belia yang beranjak dewasa terlahir 18 tahun lalu di surau dekat desa. Ia hidup bersama dalam keluarga sederhana. Kesehariannya bagaikan kertas putih tanpa geratan pena. Kedua orang tuanya bekerja layaknya orang lain yang berada  di desa. Ayahnya bertani di ladang dan ibunya sebagai ibu rumah tangga.

Setiap dua minggu sekali para petani melakukan makan bersama di gubuk di tengah ladang. Mereka membawa perbekalan masing-masing yang dibuatkan oleh istri-istrinya. Para petani di sana sangat kompak, saling berkerjasama, dan tidak ada satupun yang mementingkan kepentingannya sendiri. Jika boleh dikata, penduduk desa ini diibaratkan seperti paus dan ikan remora. Bahkan ketika waktu panen tiba.

Tak terasa sudah 1 bulan berlalu dan waktu panen di ladang telah tiba. Para petani berduyun-duyun memikul cangkul mereka menuju ladangnya masing-masing. Para gadis desa turut beririgan pergi ke ladang untuk menemani ayah mereka memanen hasil taninya. Tidak dengan tangan kosong, sebuah rantang yang berisi nasi dan pepes ikan yang merupakan kegemaran para petani di sana dibawanya.

Sya, gadis 18 tahun, yang menjadi kembang desa turut hadir diantara gadis-gadis yang lain. Sya didampingi ibu dan kakanya, Melda. Ia dikenal sangat lemah lembut, ramah, dana mat sangat anggun. Banyak pemuda desa yang menyukainya, namun hanya satu yang boleh meminang Sya suatu saat nanti. Ia berjalan diantara para petani dan lelaki yang sedang memanen hasil tani didampingi oleh kakaknya Melda.

Tertuju seketika ada seorang lelaki berambut tipis sedang mencangkul ladang untuk memnanam benih kembali. Tak sengaja lelaki itu menoleh ke arah barat dan melirik gadis 18 tahun itu. Sya melewatinya dengan menganggukan kepala sebagai tata karma kesopanan, namun denga rona merah diparasnya.

“Sudahlah, dia itu hanya lelaki desa yang tak memiliki apapun” bisik Melda kepada Sya. Namun Sya tetap melirik kepada lelaki itu.

Menjelang sore, semua beristirahat dan berkemas karena panen sudah berakhir. Yusuf, lelaki yang dipandang Sya, berjalan ke arah gubuk Pak Yahya yang di sana ada Melda dan adiknya.

“Assalamualaikum” ucapan salam Yusuf kepada orang-orang di gubuk itu.

Kala itu Sya sedang merajut kain. Sebuah surat diulurkan dari kedua tangan Yusuf yang dilapisi dengan selembar saputangan sambal memandang adik Melda dengan rona merah dipipinya.

“Segera dibaca ya” ucap Yusuf kepada Sya. Ia hanya mengangguk malu dan taka da sepatah katapun yang keluar.

No comments