Breaking News

Si Kupu-Kupu Cantik

Karya : YGP



Orang-orang seringkali merasa takjub oleh indahnya sesuatu. Keelokan seakan akan menjadi hal yang paling utama dalam segala hal. Tak terlepas dari keindahan, semua orang pasti membutuhkannya. Walaupun sedehana tetapi memikat hati siapapun yang meliriknya. Banyak orang juga yang beranggapan bahwa, keindahan adalah bagian penting dalam suatu kehidupan, bagian yang tak pernah bisa sirna dari perasaan hati, dan bagian yang selalu menjadi acuan dalam memilih sesuatu yang ingin dimiliki.

            Keindahan sering kali menumbuhkan rasa cinta. Kasih sayang merupakan sebuah rasa menyukai dan meyangi terhadap sesuatu. Kasih sayang pasti dimiliki semua manusia dan tak ada satupun manusia yang tidak memiliki rasa ini. Rasa ini muncul dengan sendirinya, terkadang muncul tiba-tiba. Siapapun yang terkena dan terjbak, maka ia akan sulit menemukan jalan keluar yang jelas. Ia akan menghampiri siapapun, tak kenal usia, baik yang muda maupun yang tua.

            Masa-masa remaja memang membutuhkan sikap konsisten yang tinggi. Masa-masa remaja pun dapat merasakan yang namanya kasih sayang terhadap lawan jenis. Sebagian remaja menyukai sesuatu hanya dari apa yang mereka lihat dari fisiknya. Tanpa mereka tau bagaimana isi dari tampilan itu. Remaja sangat mudah merasakankasih sayang yang serin disebut cinta. Mereka berasik-asik mencari pasangan sementara, tetapi sering gagal. Mungkin masa ini terjadi padaku. Masa ini sedang menyerang diriku. Kini, masa ini menghantuiku dengan sebutan masa kasih sayang terhadap lawan jenis.

Disuatu tempat, yang sudah tidak asing lagi bagiku, aku melakukan kegiatan sehari hariku. Di sana orang-orang memiliki kesibukannya masing-masing. Tanpa mengenal lelah, mereka terus bekerja bekerja dan bekerja. Dalam suatu kesibukan, aku menemukan seseorang yang memikat hatiku. Ia sangat elok nan indah. Saat ku memjamkan mataku sejenak, ternyata itu bukan dunia mimpi.

            Sejak ku jumpa pertama kali dengannya, hatiku terpana melihat keindahan parasnya. Ku lihat senyum indahnya yang sangat imut dan manis. Ia bagaikan sebuah permen yang manisnya seribu kali lebih manis dari gula.  Dalam senyumannya, kulihat kelembutan hatinya. Seakan akan hatinya dapat ku rasakan oleh hatiku.

            Ia layaknya selimut hatiku. Ketika hatiku beku, ia selalu menghangatkan, walupun hanya dalam bayangan kelam. Aku kan menjadi bintang-bintang, kan menjadi embun pagi untuknya, dalam pilu. Aku bisa untuk menjadi apa yang ia inginkan, aku bisa menjadi apa yang ia mimpikan. Tapi, kini ku tau, bahwa aku tak mungkin bisa berharap lebih padanya. Hanya satu yang ku inginkan, aku ingin ia mengerti bahwa hati ini ingin memilki.

            Telah aku sadari, dirinya jauh dari gengamanku. Sulit rasanya untuk menatap keindahan matanya. Namun, aku tak pernah merasa jauh dari bayangannya. Dalam setiap hembusan napasku, ku sebut namanya. Dalam setiap sapaan, aku terkadang memanggil namanya. Tak bisa ku bayangkan jika ia menyukaiku juga, akan tetapi mungkin kah hal ini terjadi ? Aku berharap ini terjadi, tapi skenario hiduplah yang akan menentukan.

            Hari terus berganti, aku semakin larut dalam emosi. Tidak bisa berkata hati ini dengan berjuta kata yang mencurahkan perasaan padanya. Ku hanya terdiam dalam bisu yang semakin menjelma yang seakan-akan siap mengalahkan drama yang akan aku ciptakan. Keelokan paras dan hatinya sulit aku lupakan, sulit aku hilangkan, sampai-sampai aku tersadar, bahwa ini hanyalah sementara.

            Dipagi hari, burung-burung memberikan salam kepada siapapun yang ia jumpai. Ketika aku membuka jendela kamarku, aku melihat bayangan dirinya. Ku pikir ini hanyalah khayalan, namun ini benar-benar ia. Ia melambaikan tangan padaku sambil mengenggam selembar kertas. Aku hanya berandai-andai, jika kertas itu berisikan kata-kata yang menunjukan kasih sayang.

            Kemudian, akupun mengahampirinya, dan ia mengajak aku pergi ke sebuah tempat. Ia bilang tempat itu sangat nyaman, tapi aku tak begitu percaya padanya. Sesaat setelah sampai di tempat yang aku tuju itu, aku merenung sejenak, dan ternyata memang benar tempat sangatlah indah dan nyaman. Bahkan di sana ada sebuah danau yang amat jernih airnya.

            Di sisi danau, aku berusaha memulai perbincangan. Aku tak tau apa yang harus ku katakan untuk mengungkapkan isi hatiku. Tapi, sebelum aku memulai, ia telah memulainya. Ia bertanya padaku, “bagaimana kabarmu ? “ “Sangat baik” jawabku dengan perasaan bimbang. Sesaat setelah perbincangan yang sangat singkat itu, aku melihat seekor kupu-kupu yang aneh. Kupu-kupu itu bukanlah kupu-kupu yang asli, melainkan seperti seekor kupu-kupu yang berubah menjadi robot kupu-kupu. Aku tak peduli itu kupu-kupu asli atau kupu-kupu robot, tetapi rupanya sangatlah elok. “Lihatlah kupu-kupu itu, akan ku tangkap dia” ucapku padanya. Aku pun berhasil menangkap kupu-kupu robot itu. Saat ku berikan kepadanya, ia berkata “itu untukmu saja, aku buatkan dengan kasih sayang di dalamnya.” Aku sedikit terkejut mendengarnya, aku pun terheran-heran dengan apa yang ku dengar. Apakah ini kenyataan ataukah hanya mimpi.

            Waktu terus berlalu, tak terasa hingga sang surya akan meninggalkan kami hari ini. Kupu-kupu itupun akhirnya ku bawa pulang. “Ada selembar kertas yang titipkan pada kupu-kupu itu” ucap wanita yang aku sayangi. Ia melarangku membuka dan membacanya dihadapannya, entah kenapa alasannya. Kamipun beralalu bersama yang diiringi alunan lagu yang tak sengaja menyertainya. Akupun emiliki kesan pertama dengannya, walaupun hanya sebentar, tapi terasa cukup menyenangkan.

            Sesampainya aku di rumah, akupun mulai membuka selembaran kertas pada kupu- kupu robot itu. Ku baca kata demi kata yang tergores di sana. Ada satu kalimat yang  membuatku tertuju pada suatu pikiran terhadap seseorang aku kasihi dan sayangi. Di sana tertulis “Semoga Tuhan mewujudkan apa yang kau minta.” Aku mulai berpikir, apakah ini sebuah maksud yang ingin disampaikan oleh Tuhan melalui kupu-kupu robot itu. Hari semakin malam, dan ku putuskan untuk mengakhiri hari ini dengan pergi ke dunia mimpi.

            Keesokann harinya, ia menyapaku lagi dengan senyumannya yang indah. Tanpa berpikir lama, aku langsung menghampirinya dengan membawa kupu-kupu robot itu. Bagaikan embun yang membeku, aku terkejut, ia menggajakku pergi ke tempat itu lagi. Aku merasa keanehan pada skenario kehidupan pagi ini. Mengapa ia bisa mengajakku dengan se-enteng itu.

            Di sana, disebuah tempat yang cukup asing bagiku, dikala sang surya menyengat para pejuang kehidupan, aku berusaha untuk bertanya padanya. “Sebenarnya, mengapa kau ajak aku kemari ? “
“Aku ingin mengungkapakan sesuatu yang bisa membuatmu bahagia” jawabnya.
“Apa itu ?”
“Aku ingin kau menyimpan kupu-kupu robot itu. Kupu-kupu itu aku buat untuk orang yang aku kasihi, tolong rawat kupu-kupu itu dengan baik, karena itu adalah sebuah simbol kesayangan.”

            Seketika, akupun merasa bimbang dengan situasi sekarang. Apakah ini bentuk perwujudan Tuhan terhadap harapanku ? Mungkin iya, dan aku menganggap semua ini adalah mimpi. Tapi hati kecilku berkata, bahwa ini adalah kenyataan. Skenario Tuhan memang lebih baik daripada skenario yang kita buat. Tuhan pasti telah mentakdirkan bahwa kupu-kupu robot yang elok nan indah itu menjadi milikku.

            Akan tetapi, pembuat kupu-kupu robot itu tidak selamanya ada di dunia ku. Ia hanya menitipkan kupu-kupu itu sebagai simbol kesanyangannya padaku. Meskipun hanya beru[a sebuah robot, tetapi ia sangatlah peduli. Robot itu diciptakan memang dengan menggunakan perasaan hati nuraninya dan intuisinya. Walaupun aku hanya dapat berkata “ya” tetapi aku tetap merasa bahagia.

            Surya pun tenggelam ditelan kabut kelam, akupun mulai berlalu. Ia melambaikan tangannya lagi padaku dan berkata “sampai besok pagi yaa.” Aku pulang dengan rintihan kesenangan yang bercampur kebimbangan. Entah apa maksudnya ia memberiku sebuah kupu-kupu robot yang snagat elok dan sangat indah itu. Kini aku percaya, mungkin yang dinamakan skenario Tuhan.

            Bergegas beranjak dari tempatku terlelap, aku coba membuka jendela kamarku. Ternyata ia tidak ada di sana, tidak ada yang melambaikan tangan kepadaku. Aku mulai merasa khawatir dengan keadaan, dan akupun pergi ke tempat terakhir ia mengajakku. Ternyata benar, ia ada di sana. Tapi aku terheran-heran, mengapa ia membawa seberkas koper yang besar, mau kemanakah ia akan pergi ? Aku mencoba menghampirinya dan bertanya “Kau mau pergi kemana ? “ 

“Aku akan pergi ke tempat yang sangat jauh darimu. Tapi kau jangan khawatir, ada kupu-kupu robot itu yang akan menemanimu. Ia sengaja ku ciptakan untuk menggantikanku sebagai orang yang kau sayangi dan orang yang kau kasihi. Tolong rawat ia dengan baik, jangan sampai keindahannya hilang.” Jawabnya.

“Baiklah, akan ku jaga kupu-kupu ini. Selamat tinggal dan selamat berbahagia.”

            Orang itu dengan cepat berlalu dari hadapan ku dan ia melambaikan tangan dengan senyuman yang sangat indah. Ia memberiku sebuah lembaran-lembaran yang berbentuk kupu-kupu. Tapi sangat disayangkan, aku tak bisa memberinya barang apapun, aku hanya bisa memberikan kesan padanya dan kesan itu mengalun dalam sebuah lagu ikut menyertainya. Aku beranjak pulang dari tempat itu bersama kupu-kupu yang ia berikan.

            Keesokan harinya, aku tak sengaja membuka jendela kamarku lagi, namun tiada seorangpun yang melambaikan tangan padaku. Tak sengaja, sang kupu-kupu robot itu menepuk pundakku dan memberiku selembar kertas yang bertuliskan
“Ia sudah pergi dari hadapanmu, tapi tidak pernah pergi dari hatimu.”

            Kini aku merasakan sedikit penyesalan. Menagapa aku merasa malu untuk mengungkapakan sesuatu yang tidak berat ? Dulu aku sering mengingkari hati kecilku, aku sering membohongi hatiku. Sekarang aku sadari, membohongi hati itu menyakitkan, bahkan dapat berdampak kehilangan.

            Kini, masih adakah satu kemungkinan, bagi diriku dengan dirinya, menjalin cerita, merajut kesan. Aku sendiri, tiada teman ku nanti selain kupu-kupu robot yang elok itu. Penyesalan tinggallah penyesalan. Apa yang terjadi, sudah terlewati dan sulit untuk memutar ulang waktu. Seandainya aku ada sebuah keajaiban yang mengembalikan sapaan setiap pagi itu, aku akan terbang walaupun tanpa sayap.
            Sekian lama telah berlalu, aku mulai beradaptasi dengan skenario ini. Tak ada yang dapat menghilangkan rasa kasih dan sayang ini. Aku hanya berharap pada Tuhan, semoga aku bisa bertemu lagi dengannya. Dan sekarang, kupu-kupu itu semakin elok rupanya, semakin indah warnanya, aku memanggilnya dengan panggilan Si Kupu-Kupu Cantik.


1 comment: